Saturday, October 7, 2017

PES 2018 APPCRASH ERROR (Pro Evolution Soccer 2018 has stopped working)

Beberapa hari yang lalu saya mencoba test game Pro Evolution Soccer 2018 di berbagai PC. Untuk mengetahui seberat apakah game ini jika dijalankan di PC-PC yang sudah cukup tua. Pertama kali mencoba adalah di PC dengan CPU Intel Core i3-2100 dan RAM 4 GB. Game ini dapat dijalankan dengan normal, namun pada 3 PC berikutnya yaitu AMD A4-5300 APU game ini mengalami CRASH, awalnya saya mengira ini karena CPU-nya sudah sangat jauh dibawah standar minimum karena masih dual-core murni, tidak seperti core i3 yang sudah memiliki 4 thread walaupun masih dual-core.

Namun saya merasa keget setelah saya tes menggunakan cpu Quad-Core AMD A8-3870 ternyata game ini mengalami error/crash yang sama seperti yang terjadi pada PC sebelumnya.


Seperti nya ada sesuatu yang salah. Sepengalaman saya sih kalo ada error kayak gini biasanya ada software pendukung yang harus di-install, mungkin DirectX, Visual Studio atau Visual C+ Redistributable.NET Framework, Windows Update (KBxxxxxxx), PhysX, Java, OpenAL, dan beberapa software lain tergantung dari gamenya juga.

Setelah mencari info kesana kemari, saya sudah mencoba 2 percobaan yaitu menginstall Microsoft .NET Framework 4.6 dan menginstall ulang Visual C++ Redistributable for Visual Studio 2015. namun hasilnya masih error.

Karena penasaran saya coba lihat daftar software yang terinstall pada PC pertama yg pake Core i3 yang dapat menjalankan game ini:


Saya menemukan bahwa pada PC yang dapat menjalankan PES 2018 ternyata sudah terpasang update KB2670838. Sedangkan pada 3 PC lain yang saya coba, update KB2670838 ini belum terinstall. Ya sudalah akhirnya saya download deh file yang bernama Windows6.1-KB2670838-x64.msu ini dari situs resmi Microsoft. Dan hasilnya PES 2018 dapat dijalankan tanpa muncul error APPCRASH lagi. Alhamdulillah.

saya mengunduh file Windows6.1-KB2670838-x64.msu ini dari link berikut:
https://www.microsoft.com/en-us/download/details.aspx?id=36805&751be11f-ede8-5a0c-058c-2ee190a24fa6=True


Baca Juga:
Render Settings PES 2018 PC - Fitur Baru yang Belum Pernah Ada di Seri Pro Evolution Soccer Sebelumnya

PES 2018 vs Intel Core i3-2100 CPU @ 3.10GHz x 4 ‎(3.10Ghz)‎ (RAM 4 GB)

Saya mencoba test game Pro Evolution Soccer 2018 dengan PC dengan procie Intel(R) Core(TM) i3-2100 CPU @ 3.10GHz x 4 ‎(3.10Ghz)‎ yang masih dual core, namun memiliki 4 thread karena ada teknologi Hyper-Tread-nya. Begitu pula dengan RAM yang masih 4 GB padahal seharusnya 8 GB berdasarkan Minimum System Specs resmi dari Konami. Kira-kira bisa menjalankan game PES 2018 ini gak yah? Prediksi saya sih sepertinya bisa, tapi gak tau deh gameplay nanti-nya mulus apa enggak. Berikut ini tampilan tab Specifications pada Settings PES 2018:


CPU: Intel(R) Core(TM) i3-2100 CPU @ 3.10GHz x 4 ‎(3.10Ghz)‎ OK
RAM: 4.0 GB Unable
GPU: NVIDIA GeForce GT 1030 ‎(PS5.0/VS5.0)‎‎ OK
VRAM: 1.0 GB Shared: 1.2 GB OK
PES 2018 System Requirement, Masih sanggup / Masih kuat kah PC kamu?
Untuk CPU ternyata masik OK ya, hahaha. Padahal saya kira, Minimum System Specs itu artinya: bila spek dibawah itu, maka gak bisa jalanin game ini, tapi ternyata ... masih dikasih tanda OK

Namun RAM ternyata dikasih tanda Unable. Karena pada PC ini saya masih pake 4 GB. Tapi berdasarkan pengalaman di beberapa game PES sebelumnya, biasanya sih masih bisa jalan, walaupun RAM kurang.

Jika dibandingkan dengan PES 2017, semuanya ditandai dengan kata Good.


Namun setelah saya jalankan game PES 2018 ini, dan mencoba beberapa pertandingan exhibition. Saya tidak mengalami masalah berarti, game ini mulus dan playable lah untuk CPU yang sudah cukup tua ini, yang dulu saya beli tahun 2011-an. Berarti umurnya sudah 6 tahunan. Saya merasa lega karena PC ini ternyata belum perlu untuk di-upgrade.

Untuk Setting di PC ini, baca juga:
Setting PES 2018 vs Intel Core i3-2100 CPU @ 3.10GHz (RAM 4 GB)



Friday, October 6, 2017

PES 2018 vs AMD A4-5300 APU with Radeon(tm) HD Graphics x 2 ‎(3.42Ghz)

Saya mencoba test game Pro Evolution Soccer 2018 dengan PC dengan procie APU AMD A4-5300 yang juga memiliki IGP AMD Radeon HD 7480D ‎(PS5.0/VS5.0)‎. Kira-kira masih bisa menjalankan game ini gak yah? Prediksi saya sih sepertinya bisa, paling pas gameplay nanti-nya akan terasa berat. Berikut ini tampilan tab Specifications pada Settings PES 2018:


CPU: AMD A4-5300 APU with Radeon(tm) HD Graphics  x 2 ‎(3.42Ghz) Unable 
RAM: 3.0 GB Unable
GPU: AMD Radeon HD 7480D ‎(PS5.0/VS5.0)‎ OK
VRAM: 1.0 GB Shared: 1.2 GB OK
PES 2018 System Requirement, Masih sanggup / Masih kuat kah PC kamu?
Untuk CPU dan RAM ternyata dikasih tanda Unable. Saya tidak heran sih karena AMD A4-5300 APU ini jauh lah bila dibandingkan dengan Core i5 yang "katanya" menjadi tuntutan minimum. Begitupula dengan RAM 3 GB ini juga kurang dari setengah dari Minimum System Specs. Tapi berdasarkan pengalaman di beberapa game PES sebelumnya, biasanya sih masih bisa jalan, entah bagaimana playable atau tidak saya masih penasaran.

Yang saya kaget adalah GPU onboard atau IGP AMD Radeon HD 7480D ‎(PS5.0/VS5.0)‎ ternyata dikasih tanda OK padahal  ini sangat jauh lah dibandingkan HD 7750 udah gitu VRAM-nya 1 GB juga dibilang OK, padahal di pada Minimum System Specs: justru ditulis 2GB. Ini KONAMI aneh ya, hahahaha.

Jika dibandingkan dengan PES 2017, semuanya ditandai dengan kata Good.


Lompatan hardware (System Requirement) yang cukup jauh kalo dibandingkan dengan PES 2017 lalu. Kalo menurut saya sebaiknya PES 2018 itu diganti nama saja jadi PRS 2017 (Pro Revolution Soccer). Karena Evolusi itu kan dikit-dikit perubahannya, jadi perubahan System Requirement-nya juga harusnya dikit-dikit juga atau pelan-pelan, kalo Revolusi kan cepat dan radikal.

Setelah saya selesai meng-copy semua file PES 2018 yang totalnya 24,5 GB itu saya coba menjalankan PES 2018. Tapi ternyata malah muncul ini:


Kaget juga, ini diluar dugaan prediksi saya sebelumnya. Apakah PC ini memang sudah tak sanggup atau ada hal lain yang saya lewatkan? Berikut ini isi pesan Error/Crash tersebut:

Problem signature:
  Problem Event Name: APPCRASH
  Application Name: PES2018.exe
  Application Version: 1.1.0.2
  Application Timestamp: 59c0c29f
  Fault Module Name: PES2018.exe
  Fault Module Version: 1.1.0.2
  Fault Module Timestamp: 59c0c29f
  Exception Code: c0000005
  Exception Offset: 0000000001421485
  OS Version: 6.1.7601.2.1.0.256.1
  Locale ID: 1057
  Additional Information 1: a6b0
  Additional Information 2: a6b07c82a0f1ad0f208670ee8abf932a
  Additional Information 3: 6151
  Additional Information 4: 6151f6a743667c7b09dcbe01840f09e0

Read our privacy statement online:
  http://go.microsoft.com/fwlink/?linkid=104288&clcid=0x0409

If the online privacy statement is not available, please read our privacy statement offline:
  C:\Windows\system32\en-US\erofflps.txt


Setelah saya pelajari ini diakibatkan karena Windows 7 64 bit yang saya gunakan pada patch tersebut belum di-update. Untuk mengatasi masalah ini silakan buka link berikut ini:
PES 2018 APPCRASH ERROR (Pro Evolution Soccer 2018 has stopped working)
Setelah masalah CRASH/ERROR error diatas dapat saya atasi, saya berhasil menjalankan game PES 2018 di PC AMD A4-5300 APU ini. Namun sayangnya saya tidak mendapatkan gameplay yang mulus. Framerate terasa lag atau patah-patah, mungkin ini akibat CPU atau mungkin GPU-nya yang kurang kenceng. Saya masih penasaran kedepannya saya akan melakukan test dengan CPU yang sama namun saya akan tambahkan VGA addon, saya lebih curiga ini diakibatkan oleh GPU-nya yang kurang kenceng. Terima, kasih sudah membaca artikel ini. Wasalam

PES 2018 System Requirement, Masih sanggup / Masih kuat kah PC kamu?

Bulan September lalu akhirnya Pro Evolution Soccer 2018 dirilis. Berbeda dengan PES 2017 kebelakang, kali ini PES 2018 PC menggunakan basis graphic engine yang sama dengan versi PS4. Sebelumnya untuk versi PES 2017 sampai PES 2014, pada versi PC masih menggunakan FOX Engine yang levelnya masih dibawah PS4 tapi diatas PS3 atau XBOX 360. Bisa dikatakan versi PC itu adalah PS3,5 lah Sehingga untuk versi PC, kualitas gambarnya masih kalah sama Playstation 4 dan XBOX One sehingga banyak gamer PC kecewa, terutama para gamers PC kalangan atas yg ber-budget tebal. Maka di tahun ini versi PC dibuat setara dengan PS4 ini berita baiknya! Berita buruknya? PES 2018 menuntut system requirement yang lumayan tinggi:
PES 2018 Minimum System SpecsWindows 7/8.1/10 (64 bit)
Intel Core i5-3450 (3.10 GHz), AMD FX 4100v (3.60 GHz)
8 GB RAM
NVIDIA GTX 650, AMD Radeon HD 7750
2 GB VRAM
DirectX 11.0
30 GB available hard disk space
1280 x 720 screen resolution
Jika dibandingkan dengan PES 2017 ini adalah lompatan yang cukup jauh:
PES 2017 MINIMUM SYSTEM REQUIREMENTS:Windows 10, 8.1, 8, 7 SP1, Vista SP2
Intel Core2 Duo 1.8GHz / AMD Athlon Ⅱ X2 240 or equivalent processor
1 GB RAM
DirectX 9.0c compatible video card. 1024MB Pixel Shader 3.0 (NVIDIA GeForce 8800 / AMD/ATI Radeon X1600 / Intel HD Graphics 3000 or better)
Untuk Prosessor minimalnya saja sudah harus pake Quad-Core seperti Core i5 generasi ke 3 atau AMD FX series yg frekuensinya diatas 3.10 GHz. Padahal untuk PES 2017, CPU dual core yang masih 1,8 GHz saja masih cukup.

Lalu RAM minta 8 GB dan Windows pun harus 64 bit. Jadi sudah pasti selamat tinggal deh yg masih pake 32 bit. 

Pada graphic card, sepertinya VGA onboard sudah tidak akan bisa dipakai lagi. Minimalnya saja sudah minta nVidia GTX 650 atau AMD Radeon HD 7750 itu pun VRAM-nya harus 2GB. Apakah ini adalah akhir hidup dari sebuah solusi IGP yg pada beberapa tahun terakhir banyak dipuja-puji?

JANGAN KHAWATIR!
Walau demikian, saya masih penasaran ingin mencoba menjalankan PES 2018 pada PC yang katanya, sudah tidak layak untuk mengangkat game ini. Berdasarkan pengalaman, PC dengan spek dibawah System Reqiurement pun kadang masih bisa dipakai untuk mengangkat game-game tertentu.

Monday, October 2, 2017

Benarkah Kisah tentang seorang PSK yang masuk surga karena ngasih anjing minum?


Pertanyaan:
Ustad, mengenai seorang PSK yang masuk surga karena ngasih anjing minum.
Bukankah dalam banyak riwayat mengatakan solat adalah tiang agama, jika perbuatan baik tak dihitung.

Jawaban:
(ini) Zaman Bani Israil... cerita ini bukan orang Islam.
Kata nabi, dulu ada orang Bani Israil, lalu ia menengok anjing haus.
Diambilnya sepatunya, Allah mengampunkan dosanya.
Bunyi hadis itu "Allah mengampunkan dosanya"
karena sikap lembutnya kepada makhluk. Begitu bunyinya. Bukan orang Islam.
Pertanyaan ini bagus karena kaitannya dengan solat.
Banyak juga orang yang, ... WTS-WTS kalo baca hadis, dengar ceramah tadi senang betul dia.
Ah kalo gitu gak perlu solat, yang penting pelihara anjing kasih makan banyak-banyak.
Makanya ngaji harus putus, tuntas jangan sepotong.


Pertanyaan:
Apakah perbuatan baik dihitung walaupun tidak melaksanakan solat?

Jawaban:
Orang baik kalo tak solat apakah dibalas Allah?
Buka kitab fikih Sayyid Sabiq!
Orang kafir kalo dia berwakaf, bersodakoh, langsung dibalas Allah di dunia.
Makanya kalo ada (orang) Cina, rajin sedekah sama orang islam, makin kaya kenapa?
(karena) Allah balas. Langsung dibalas Allah di dunia cash supaya di akhirat tinggal masuk neraka
Jadi kalo ada orang, "aku gak solat, gak puasa, aku rajinkan? (sedekah), dibalas Allah gak?"
Allah pasti balas, makanya rizki mu lancar di dunia.
"Terus?" di akhirat kau tinggal masuk neraka jahanam.

Sumber: https://youtu.be/SJ1idriu2Fo?t=9m6s

Seluruh orang Indonesia nyontek kecuali ...


Pertanyaan:
Saya sedang dalam proses masuk kuliah jalur undangan yang mengamalkan nilai raport. Selama SMA saya pernah nyontek saat ulangan bahkan untuk UN yang telah lalu, saya melihat kunci jawaban untuk mapel fisika. Jika saya lulus di jalur undangan apakah saya boleh mengambilnya? Padahal nilai raport tidak murni.

Jawaban:
Seluruh orang Indonesia nyontek kecuali Abdul Somad. "Ustad tak nyontek karena ustad takut sama Allah?"
Tidak! Saya takut sama pengawas Al-Azhar. Di Azhar kalo ketangkap nyontek dideportasi visa dicabut. Pengawasnya ketat, jarak jauh. Masuk lokal cuman bawa pena.

Jadi kalo cerita nyontek, anakku tak usah kau keluar, karena kalo engkau keluar digantikan oleh yang nyontek juga. Bedanya engkau nyontek tapi ngaji. Nah tobat nasuha aja lah, berhenti!

Apa tak nyontek, semua tertekan. Guru ditekan kepala sekolah, anak-anak mesti nilai tinggi. Kata guru ini jawabannya: kepala sekolah ditekan kepala dinas, kepala dinas ditekan gubernur, gubernur ditekan menteri, tekan menekan, akhirnya stress. Masuknya goblok keluarnya bloon

oleh sebab itu, mari ...
Ustad gimana cara ustad supaya anak-anak lokal ustad tidak mencontek? sebelum ujian kursi jarangkan, maju kedepan.
Setelah jarang soal saya yang bagi. Kalo soal sudah saya bagi langsung tulis nama; Begitu soal saya bagi langsung tulis nama. YA, tulis nama. Sudah...
setelah itu dia mulai berbisik ke kawan...
....
maksud dia "soalnya beda"
Saya buat di lokal itu soalnya sepuluh. Sehingga kalo dia nanya ke depan, lain. Nanya ke belakang, lain. Nanya ke kiri, lain.
.... "apa?", "aku aja belum"
Itulah cara menyelamatkan. Kalo mau kejam-kejam tak bisa. Itu salah satu tips supaya anak-anak ini selamat dari mencontek

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=SJ1idriu2Fo&t=22m10s

Benarkah Ukuran File Size Hasil Encoding MP4 H.265 HEVC jauh lebih kecil dari H.264 AVC?

Kira-kira 10 tahun kebelakang video H.264 atau MPEG-4 AVC merupakan format video MP4 paling populer, bahkan Youtube pun menggunakan H.264 format ini sebagai standar. Namun sejak beberapa tahun terakhir ini, mungkin sejak tahun 2013-an hingga kini sedang dikembangkan format baru yang merupakan suksesor dari H.264 yang bernama H.265. Katanya sih format ini bisa mengkompresi dua kali lipat lebih baik dari pendahulunya. Misalnya suatu video MP4 kalo pake H.264 itu file size-nya sebesar 100 MB maka secara teori kalo dikompres pake encoder x265 itu file size-nya akan menjadi cuma 50 MB. Itulah kira-kira yang ane tangkap dari pemberitaan sensasional H.265 yang juga dikenal sebagai HEVC (High Efficiency Video Coding) itu.

Namun beberapa waktu yang lalu saya pernah mencoba melakukan encoding menggunakan HEVC x265 ini namun hasilnya tidak se-WOW yang seperti saya baca dalam artikel pemberitaan. Yang saya rasakan hasil encoding HEVC ini paling hanya lebih kecil sekitar 10% saja dari hasil kompresi x264 AVC (Advanced Video Coding) yang merupakan pendahulunya.

Setelah beberapa bulan, mungkin tahun, hahaha. Saya ingin mencoba kembali atau sekedar melakukan tes uji praktek. Untuk membuktikan kembali pandangan saya terhadap teknologi HEVC H.264 ini. Mungkin saja dulu ketika saya mencoba pertama kali encoder atau converter-nya ini masih kurang bagus. Kali ini saya akan menggunakan salah satu software converter video freeware alias gratisan yang populer, yaitu HandBrake versi 1.0.7 (2017040900) - 64bit. yang bisa diunduh dari https://handbrake.fr/

Sebagai sample saya mendownload video berdurasi pendek sekitar 18 detik dari channel Youtube saya: https://www.youtube.com/channel/UCCzeTS50sKB88VXOzKCazEQ

Video tersebut saya rename menjadi "Youtube H.264 Original.mp4"
Detail informasi video tersebut sebagai berikut:
VIDEO:
Codec 4CC: H264
Image Size: 540 x 360
Aspect Ratio: 1:1 (1:1)
Frame Rate: 16.120 fps
Total Duration: 00:00:18.548
AUDIO:
Codec: AAC
Channels: Mono
Bitrate: 16000 Bps / 128 kbps
Frequency: 44100 Hz
Total Duration: 00:00:18.529
File ini berukuran 1.433 KB atau 1,39 MB (1.467.216 bytes)
Saya akan melakukan konversi video ini menggunakan software HandBrake menggunakan encoder x264 dan x265 untuk mengetahui membandingkan file-size yang dihasilkan dari kedua proses tersebut.

Pertama-tama saya melakukan encode menggunakan Video Codec H.264 (x264) dulu:

HandBrake - Video Output Settings
Output Settings yang saya gunakan adalah sebagai berikut:
Video:
 - Video Codec: H.264 (x264)
 - Framerate (FPS): 30 (Peak Framerate)

Optimise Video:
 - Encoder Preset: Ultrafast
 - Encoder Level: 4.0

Quality:
 - Constant Quality: 22

Audio
 - Codec: AAC (avcodec)
 - bitrate: 128
 - mixdown: mono
Hasilnya adalah:


Ternyata file-size hasil konversi Handbrake lebih besar sekitar 3x lipat dari file H.264 standar Youtube. Karena kurang puas dengan hasil konversi tersebut, kali ini saya akan bermain dengan Optimasi Video: Secara teori, semakin lama suatu video di optimasi maka akan semakin kecil ukuran file size-nya. Karena saya menggunakan setelan paling cepet sehingga file-size MP4 H.264 tadi ukurannya lebih besar daripada file originalnya yang diunduh langsung dari Youtube.

Pada software HandBrake ini total ada 10 tingkat optimasi, jika diurutkan dari yang paling cepat (file size paling besar) ke yang paling lambat (file size paling kecil) adalah sebagai berikut:
01. Ultrafast
02. Superfast
03. Veryfast
04. Faster
05. Fast
06. Medium
07. Slow
08. Slower
09. VerySlow
10. Placebo
Secara teori seharusnya file-size terkecil adalah yang proses optimize-nya paling lambat, yaitu Placebo. Namun ini juga harus dipraktekan atau dibuktikan karena sepengalaman saya, beberapa waktu yang lalu saya pernah coba encoding menggunakan optimasi Faster ternyata file size-nya malah lebih kecil daripada file size yang di-encode menggunakan optimasi Placebo. Kali ini akan saya tes dan buktikan lagi, berikut file size hasil encoding menggunakan berbagai tingkat optimasi:


Seperti perkiraan saya, teori adakalanya meleset karena berbagai macam faktor yang kurang diperhitungkan. Setelah Ultrafast memiliki ukuran / file size paling besar, setelah itu tingkat 2 adalah Superfast yang hasilnya bisa menghemat separuh atau 50% dari file size Ultrafast. Sedangkan tingkat 3: Veryfast hanya menghemat 10% saja dari Superfast. Sedangkan level 4: Faster hampir sama dengan Superfast, penghematan file size-nya ada tapi tidak signifikan. Yang bikin heran adalah pada preset level 5: Fast, ukuran file malah membengkak lagi jadi sama/melebihi file size pada tingkat 3 (Veryfast), level 6,7,8 (Medium, Slow, Slower) tidak memberikan perubahan berarti. File size paling kecil di dapat dari preset tingkat 9: VerySlow sebesar 1.732 KB atau 1,69 MB. Seangkan pada preset level 10: Placebo file-size-nya malah lebih besar dari preset level 9: VerySlow.
4.340 KB HandBrake_x264_Preset_01_Ultrafast.mp4
2.157 KB HandBrake_x264_Preset_02_Superfast.mp4
1.820 KB HandBrake_x264_Preset_03_Veryfast.mp4
1.803 KB HandBrake_x264_Preset_04_Faster.mp4
1.825 KB HandBrake_x264_Preset_05_Fast.mp4
1.818 KB HandBrake_x264_Preset_06_Medium.mp4
1.819 KB HandBrake_x264_Preset_07_Slow.mp4
1.820 KB HandBrake_x264_Preset_08_Slower.mp4
1.732 KB HandBrake_x264_Preset_09_VerySlow.mp4
1.754 KB HandBrake_x264_Preset_10_Placebo.mp4
1.433 KB Youtube H.264 Original.mp4
Setelah melihat hasil ini saya merasa kagum dengan Youtube karena dapat melakukan optimasi file video hingga ukuran file size-nya menjadi sangat kecil secara otomatis. Sehingga memuculkan pertanyaan: Bagaimana caranya melakukan optimasi video sehingga file sizenya sekecil atau lebih kecil dari Youtube? Ini penting untuk menghemat storage dan bandwidth internet, walaupun makin sini internet semakin cepat dan storage semakin besar. Karena storage dan internet itu kan harus bayar, enggak gratis. Jadi kita harus berfikir bagaimana caranya berhemat.

Setelah cukup puas bereksperimen melakukan encoding menggunakan Codec H.264 (x264), kini saatnya berekperimen dengan Codec H.265 (x265), hasilnya adalah sebagai berikut:


Saya cukup kecewa dengan hasilnya, karena dengan settingan yang sama ternyata file size H.265 terkecil yang dihasilkan dari preset tingkat 4: Faster yaitu sebesar 1.462 KB saja. Jika dibandingkan dengan hasil coding dari H.264 sebelumnya dimana file-size terkecil yang dihasilkan adalah sebesar 1.732 KB, maka selisihnya sangat tipis yaitu sebesar 270 KB saja, atau cuma sekitar 15%-nya saja.Sehingga kesimpulan sementara yang dapat saya simpulkan adalah bahwa: Codec H.265 HEVC hanya bisa menghemat sekitar 15% saja dari pendahulunya H.264 AVC.

Ada satu lagi yang membuat saya kepikitan terus, kok bisa yah format H.264 standar Youtube mengalahkan H.265 Handbrake dalam hal ukuran file size. Padahal seharusnya H.265 yang lebih canggih ini mestinya dengan mudah mengalahkan teknologi pendahulunya? Mungkin jawabannya ada disini:

Codec Audio yang saya setel sepertinya terlalu tinggi
Sepertinya saya kurang memperhitungkan Audio Codec yang juga mempengaruhi ukuran/file size. Sepertinya saya terlalu tinggi menyetel settingan bit rate-nya.

 

File "HandBrake_x265_Preset_04_Faster.mp4" memiliki Audio Bit rate 129 kbps
Sedangkan file "Youtube H.264 Original.mp4" memiliki Audio Bit rate 74 kbps saja.


Saya mencoba melakukan encoding lagi agar bitrate audio-nya setara dengan file original hasil encoding Youtube. Pada bagian Audio Codec, saya pilih opsi Auto Passthru, agar audio source atau input sama dengan output. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:



Akhirnya H.265 HandBrake dapat mengalahkan H.264 versi Youtube walaupun sangat tipis. File Size-nya jadi cuma 1.342 KB. Selisihnya cuma 91 KB atau cuma 6% saja. Pantes saja Youtube belum mau pake format H.265. Pengaruhnya gak terlalu signifikan.

HandBrake vs Avidemux Encoding MP4 HEVC x265 File Size Kecil Mana?