Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Tuesday, September 10, 2019

RPP Metode Pembelajaran SING A SONG Cara Mengajar Bahasa Inggris SD Kelas 5

Supaya murid lebih bergairah dalam belajar, guru harus pandai memilih metode belajar yang tepat. Salah satu cara belajar yang menyenangkan adalah bernyanyi. Saya berharap siswa memiliki passion dalam belajar dengan menggunakan metode ini.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebelumnya saya membuat tulisan berjudul RPP Metode Pembelajaran SING A SONG Cara Mengajar Bahasa Inggris SD Kelas 6. Sedangkan untuk kelas 5 Sekolah Dasar, berikut ini Rangkuman Materi Bahasa Inggris yang saya intip di situs www.jagoanbahasainggris.com:

SEMESTER I
1. Things in the Classroom (Benda-Benda yang ada di Dalam Kelas)
2. Things Around School (Benda-Benda yang ada di sekitar Sekolah)
3. Greetings (Kalimat Sapaan)
4. Parts of Body (bagian-bagian tubuh)
5. My Family (Keluargaku)
6. Things at Home (Benda-benda yang ada di rumah)
7. Introducing Oneself (Memperkenalkan diri)
8. Foods and Drinks (Makanan dan Minuman)

SEMESTER II
1. Mathematics (Matematika)
2. Professions (Pekerjaan)
3. Transportation (Kendaraan transportasi)
4. Shape (Bentuk)
5. Library (Perpustakaan)
6. Weather and Seasons (Cuaca dan Musim)

Saya mencoba membuat sebuah lagu berdasarkan materi Things in the Classroom (Benda-Benda yang ada di Dalam Kelas) atau Things Around School (Benda-Benda yang ada di sekitar Sekolah). Saya akan mengubah lirik lagu Bila Kau Senang Hati agar sesuai dengan materi pembelajaran Bahasa Inggris diatas. Saya membuat lirik dengan menggunakan kata dan kalimat berbahasa Inggris lalu bahasa Indonesia secara bergantian agar murid paham arti dari kata atau kalimat yang mereka ucapkan dalam lagu.

Bila Kau Senang Hati English Version:
(Things in the Classroom / Around School)

To Write in the whiteboard you need a marker
Spidol untuk nulis di papan tulis
The Teacher need a marker
Guru perlu sepidol
To write in the whiteboard - perlu sepidol

Student needs a pencil to write in the book
Murid perlu pinsil untuk menulis
Menulis nya di buku
Writing book = buku tulis
Murid perlu pinsil - to write in the book

We can read and borrow books from library
Pinjam buku dari perpustakaan
We can read = bisa baca
Can borrow = bisa pinjam
From Library = dari perpustakaan

Kelemahan metode menyanyi atau SING A SONG ini adalah kuantitas materi yang disampaikannya sedikit. Sehingga kadang membuat saya khawatir banyak materi yang tidak tersampaikan nantinya. Metode ini boleh sesekali digunakan untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar, tapi untuk sering digunakan saya tidak terlalu merekomendasikannya.

Beberapa lagu anak yang bisa dipilih dapat dilihat pada daftar Lirik Lagu-lagu Anak Indonesia pada tautan berikut: https://id.wikibooks.org/wiki/Lirik_Lagu-lagu_Anak_Indonesia

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wednesday, August 21, 2019

Akreditasi Sekolah: Bukan Murid saja yang dikasih nilai oleh guru

Bukan Murid saja yang dikasih nilai oleh guru. Guru dan Sekolah pun ada yang menilai loh!
Beberapa hari ini di sekolah tempat saya mengasuh tidak seperti hari-hari biasa. Para guru sedang sibuk mempersiapkan akreditasi sekolah. Karena saya bukan guru profesional saya tidak begitu paham dan mendalami tentang seluk beluk akreditasi. Yang saya tahu tentang akreditasi adalah, kunjungan untuk menilai suatu sekolah. Sehingga nanti sekolah memiliki semacam rapot yang memiliki nilai akreditasi A, B, C atau tak terakreditasi. Akhirnya kali ini saya penasaran ingin lebih memahami apa sih pentingnya akreditasi bagi sekolah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tak Terakreditasi
Setelah membaca dari beberapa media di internet, ternyata hanya sekolah dengan akreditasi A dan B yang berhak menyelenggarakan UN. Bila sekolah belum terakreditasi atau nilainya C, saat Ujian Nasional harus bergabung dengan sekolah yang sudah terakreditasi. Kemudian yang menandatangani ijazah siswa yang ikut UN tersebut adalah kepala sekolah yang sekolahnya sudah terakreditasi. Referensi:
Pada tanggal 14 Desember 2018, salah-satu artikel pada situs mediaindonesia.com menyebutkan bahwa sebagian besar sekolah dan madrasah di Tanah Air atau 55,31% terakreditasi B dan hanya sebagian kecil yang masuk akreditasi A. Selain itu, masih ada sekolah dan madrasah yang tidak terakreditasi, bahkan tercatat 705 yang tutup. Sekolah yang tidak terakreditasi atau tidak mendapat akreditasi, antara lain karena sekolah tersebut tidak memenuhi kriteria penilaian akreditasi

Akreditasi Sekolah juga Pengaruhi Pemberian Dana BOS
Mungkin salah satunya hal ini yang membuat banyak sekolah berjuang habis-habisan mendapatkan nilai akreditasi sebaik mungkin. Sekolah yang tidak terakreditasi dipastikan tidak akan menerima Biaya Operasional Sekolah (BOS) pada 2020 mendatang. Sumber:
Berdasarkan artikel berjudul Sekilas Tentang Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Besar biaya satuan BOS yang diterima oleh sekolah  pada tahun anggaran 2012, dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan:

  • SD/SDLB : Rp 580.000,-/siswa/tahun
  • SMP/SMPLB/SMPT : Rp 710.000,-/siswa/tahun

Ada satu artikel menarik tentang akreditasi sekolah yang senada dengan pikiran dan hati saya. Artikel tersebut berjudul Fenomena Akreditasi : Pencitraan atau Kualitas?
Bahkan sebelumnya saya berhasrat membuat tulisan serupa, eh ternyata keduluan. Ada orang yang telah membuatnya, persis seperti apa yang saya rasakan dan saya pikirkan. Berikut dibawah ini saya rangkum intisari dari artikel tersebut:

Pencitraan Akreditasi
Menjelang visitasi atau kunjungan akreditasi, sekolah akan sibuk sekali mempersiapkan segalanya agar mendapatkan nilai akreditasi sebaik mungkin. Para guru diminta untuk mengumpulkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) beserta evaluasi belajar, tidak ketinggalan media mengajar, walaupun pada hari-hari biasa jarang dilakukan, bahkan tidak pernah membuat RPP dan tidak pernah membuat inovasi media belajar. Tenaga kependidikan non guru dan kepala sekolah juga disibukkan dengan urusan administrasi, mulai dari data siswa, prestasi siswa, data guru, dan lain-lain. Para murid pun tidak ketinggalan, mereka juga sibuk, bersama wali kelasnya mereka menghias kelas, membersihkan kelas, hampir setiap hari kerja bakti masal, ikut mencat ruangan, berlatih menyanyi dan sebagainya. Mencoba berfikir positif bahwa "akreditasi" ini adalah salah satu cara untuk mengontrol sekolah dan menjaga kualitas sekolah, tetapi sebenarnya saya merasa resah dan khawatir atas fenomena akreditasi ini. Banyak pertanyaan muncul dalam benak saya, seperti: "Kenapa RPP baru dibuat pada saat akan akreditasi? Padahal di hari-hari biasa baik kepala sekolah, pengawas, bahkan kepala dinas tidak pernah menyinggung tentang RPP apalagi membahas pengembangan kegiatan pembelajaran", "Kenapa fasilitas baru dibenahi hanya ketika ada akreditasi?", "Kenapa laporan baru dibuat saat mau akreditasi?" dan segudang pertanyaan "Kenapa" lainnya. Sehingga terkadang saya berfikir negatif, bahwa semua yang dilakukan oleh pihak sekolah hanya untuk pencitraan saja, pencitraan agar sekolah dinilai bagus dan layak, pencitraan agar berhasil mendapatkan nilai "A" atau minimal "B".

Lalu bagaimana dengan masalah kualitas sekolah? Apakah kualitas sekolah hanya pantas dinilai melalui akreditasi? Fenomena seperti ini seperti melihat kecerdasan seorang anak yang hanya diukur dari nilai akhir saja. Pada akhirnya semua seperti dinilai secara instan. Bukankah akan lebih baik jika kita terlihat apa adanya? Jika memang kita masih belum berkualitas maka kita harus lebih meningkatkan kualitas lagi. Jika kita sudah berkualitas maka kita harus mempertahankannya, bahkan lebih baik ditingkatkan? Mengapa kita harus sibuk saat akreditasi, seolah-olah semua lengkap sempurna, baik padahal kenyataannya semua dikerjakan hanya dalam waktu 1 bulan saja? Bulan-bulan lainnya sama sekali berbeda. Bukankah lebih baik jika kita mempersiapkan semua itu dengan niat "murni" untuk meningkatkan kualitas dan bukan untuk pencitraan? Bukankah lebih baik jika sedari awal guru-guru sudah diminta kesadarannya untuk membuat RPP secara teratur yang di tindak lanjuti dengan pemeriksaan rutin dari sekolah? Dengan seperti itu tentu saja semua akan lebih rapi, teratur dan baik. Menjelang akreditasi kita tidak perlu diributkan dengan hal-hal yang seharusnya kita lakukan sejak dulu. Kita akan lebih bisa menilai kualitas kita secara objektif dan bukan karena sekedar pencitraan.

Sumber:
 Nurul, Fitri. 2014. Fenomena Akreditasi : Pencitraan atau Kualitas? kompasiana.com

Artikel lainnya yang menarik tentang akreditasi adalah tulisan yang berjudul LANGKAH STRATEGIS PERSIAPAN AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH karya Reni Herawati. Menurut saya artikel tersebut sangat cocok untuk dibaca oleh yang sekolahnya akan mendapatkan kunjungan visitasi akreditasi.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wednesday, August 14, 2019

Ubah RPP Metode Pembelajaran SING A SONG Cara Mengajar Bahasa Inggris SD Kelas 6

Kegiatan pembelajaran dengan metode yang sama dalam waktu cukup lama akan menyebabkan kebosanan. Ini merupakan efek negatif yang harus segera ditangani karena dikhawatirkan akan menyebabkan situasi yang tidak kondusif dalam kegiatan belajar mengajar.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Metode yang sering saya gunakan dalam mengajar adalah metode MATCHING atau menjodohkan kata per kata atau kalimat per kalimat. Penjelasan tentang metode MATCHING ini dapat dilihat pada postingan saya sebelumnya yang berjudul:
RPP Metode MATCHING WORD BY WORD mempermudah Mengajar Pembelajaran Bahasa Inggris SD (Sekolah Dasar)
Selain metode MATCHING saya juga sering menggunakan cara mengajar atau metode REWRITING. Bahkan keduanya pun bisa dipadukan satu sama lain dan saling mendukung dan menguatkan. Biasanya saya menggunakan metode REWRITING ini saat menugaskan PR atau Pekerjaan Rumah. Harapannya agar murid bisa belajar dan menghafal dirumahnya masing-masing. Adapun cara mengajar dengan menggunakan metode RE-WRITING dapat dilihat pada artikel yang berjudul:
RPP Metode RE-WRITING Paling Mudah Mengajar Pembelajaran Bahasa Inggris SD
Namun terlalu sering memberikan PR kepada siswa, sepengalaman saya beberapa siswa merasa bosan dan tidak nyaman. Ada beberapa siswa yang absen pada jam pelajaran Bahasa Inggris karena tidak mengerjakan PR dan takut diberikan hukuman oleh guru. Jadi menurut saya memberikan PR cukup sesekali saja, mungkin sebulan sekali kali yah, atau paling mepet dua minggu sekali.

Untuk mengembangkan metode pembelajaran yang baru saya harus mencari banyak referensi. Jika menggunakan google dengan kata kunci: "bahasa inggris kelas 6 sd" maka muncul link-link seperti dibawah ini:


Hasil pencarisan teratas di tempati oleh halaman berjudul: Rangkuman Materi Bahasa Inggris Kelas 6 SD. Lalu peringkat kedua: Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 6 SD. Setelah saya amati ternyata kedua halaman tersebut memuat isi yang hampir sama persis. Bahwa, materi pelajaran Bahasa Inggris Kelas 6 SD adalah sebagai berikut:

SEMESTER 1
1. Directions and Locations (Arah dan Letak)
2. Holiday (Hari Libur)
3. Describing People and Objects (Menggambarkan orang dan Objek)
4. Shopping (Berbelanja)
5. Ownership (Kepemilikan)
6. Folk Tales (Dongeng)

SEMESTER 2
7. Government ( Pemerintahan)
8. Order and Request (Perintah dan Permintaan)
9. Health and Hospital (Kesehatan dan Rumah Sakit)
10. Earth and Planets (Bumi dan Planet)
11. Feeling (Perasaan)
12. Tourism (Pariwisata)

Selama ini saya tidak terlalu memperhatikan standar materi seperti apa yang harus diberikan pada pelajar di Sekolah Dasar. Apakah materi diatas sudah merupakan standar baku nasional. Ataukah setiap guru bebas membuat rumusan materi sendiri. Karena selama beberapa tahun belakangan ini saya mengajar berdasarkan apa yang diujikan dalam naskah ujian, seperti soal-soal UTS, UAS, UKK dan sebagainya. Namun mengikuti materi naskah ujian yang tidak saya buat sendiri adalah pekerjaan yang menyebalkan dan membosankan. Karena saya tidak bisa bebas membuat dan mengembangkan metode pembelajaran saya sendiri. Maklum saya adalah seorang guru yang tidak jelas status dan predikatnya, ada yang bilang guru honorer, bisa juga dibilang guru sukwan atau sukarelawan yang bekerja secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan, ya ya ya. Jangankan mengharapkan imbalan materil, dukungan secara moril dan penghargaan berupa support atau ucapan terima kasih saja rasanya jarang saya dapatkan kecuali sekedar ucapan salam dan penghormatan dari anak didik. Pengembangan RPP dan metode mengajar pun jarang ditanyakan, apalagi dibina dan didukung. Akhirnya saya hanya bisa mengembangkan pembelajaran sebisa saya sendiri dengan segala keterbatasan.

Pada dasarnya saya ingin mengembangkan metode mengajar yang mudah dan menyenangkan. Maksudnya mudah bagi guru untuk mengeksekusinya dan menyenangkan bagi murid. Ada beberapa metode pembelajaran yang cukup menyenangkan yang pernah saya lakukan, misalnya metode GAMES (Permainan) dan SING A SONG atau menyanyikan sebuah lagu. Namun metode ini jarang saya pakai karena ada beberapa kelemahan, seperti merepotkan saya dalam mengajar maupun saat membuat rancangan pembelajaran. Contohnya metode SING A SONG membutuhkan perencanaan dan perancangan yang cukup lama karena lagu juga harus disesuaikan dengan "dunia" murid sehingga guru harus mengubah liriknya, mengubah beberapa kata atau kalimat yang sulit dibayangkan, diterjemahkan, diucapkan atau sulit dihafal.

Tapi jika ditekuni saya pikir kedepannya murid dapat belajar secara mandiri, apalagi saya bukan guru profesional. Kadang saya tidak memiliki banyak waktu untuk mengasuh murid karena harus mencari nafkah untuk keluarga. Saya berharap murid bisa bermain sambil belajar, bernyanyi menyenangkan sambil belajar Bahasa Inggris dan bisa dilakukan baik di dalam kelas maupun di luar kelas bahkan bisa dilakukan di luar sekolah atau di rumah.

Supaya nyambung dengan materi. Lirik lagu tentunya harus mengandung kata-kata atau kalimat yang sesuai dengan rumusan materi. Misalnya kali ini saya ingin membuat materi dengan topik Directions and Locations. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari soal-soal UTS Semester I yang sesuai dengan topik tersebut, misalnya:

1. What is the person who works in the hospital?
    A. teacher   B. policeman   C. doctor    D. farmer

2. Farmer is a person who works in the field

3. There are many planes in the ...
    A. station    B. air port    C. museum    D. market

4. Where is the capital city of west Java Province?
    A. Bandung    B. Jakarta    C. Surabaya    D. Semarang

Beberapa link soal UTS Semester I Kelas 6 SD:
https://www.jagoanbahasainggris.com/2017/09/soal-uts-bahasa-inggris-sd-kelas-6-semester-ganjil.html
https://www.juraganles.com/2016/09/soal-uts-bahasa-inggris-kelas-6-semester-1-plus-kunci-jawaban.html
5. A place to study and teach is ....
    A. Market
    B. School
    C. Bank
    D. Hospital

6. A place for saving money is ....
    A. Market
    B. School
    C. Bank
    D. Hospital

Dari beberapa contoh soal diatas saya akan membuat lirik sebuah lagu.
Irama Lagu yang akan saya coba gunakan adalah lagu Bangun Pagi

Satu dua, tiga empat
if the teachers work in a school

Lima Enam, tujuh delapan
guru kerja di sekolah

siapa rajin kesekolah
students study diligently

cari ilmu sampai dapat
murid blajar dengan rajin

========================

sungguh senang amat senang
if the farmer work in the field

bangun pagi pagi sungguh senang
petani kerja di sawah ladang

========================

sungguh senang amat senang
doctor works in the hospital

bangun pagi pagi sungguh senang
dokter kerjanya di rumah sakit


Adapun kelemahan metode SING A SONG ini adalah kuantitas materi yang disampaikannya sedikit. Sehingga kadang membuat saya khawatir banyak materi yang tidak tersampaikan nantinya. Ah tapi saya pikir terlalu banyak materi pun juga akan membuat murid capek, bosan, dan tidak memiliki passion dalam belajar. Jadi untuk tahun ini saya akan mencoba lebih sering menggunakan metode ini.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Friday, April 14, 2017

RPP Metode MATCHING WORD BY WORD mempermudah Mengajar Pembelajaran Bahasa Inggris SD (Sekolah Dasar)

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengembangkan RPP Mata Pelajaran Bahasa Inggris yang berorientasi atau berfokus pada kemampuan siswa dalam menggunakan kamus Bahasa Inggris. Saya berasumsi bahwa siswa lulusan SD minimal harus mempunyai kemampuan atau kompentesi dalam menggunakan kamus Bahasa Inggris.

Metode yang saya gunakan saya namakan Metode FIND THE WORD atau "Mencari Kata". Dimana siswa akan diberikan tugas oleh guru untuk mencari beberapa kata dalam Bahasa Inggris kemudian mereka harus mencari tahu artinya dalam Bahasa Indonesia atau sebaliknya dengan menggunakan Kamus.

Misalnya, guru memberi soal berikut:
1. Why = ....
2. What = ....
3. When = ....
4. Where = ....
5. Who = ....
Kemudian siswa mencari artinya dalam Bahasa Indonesia, atau sebaliknya soal dalam Bahasa Indonesia kemudian siswa mencari artinya dalam Bahasa Inggris.

Kekurangan Metode FIND THE WORD
Walaupun dapat melatih kemampuan siswa dalam menggunakan kamus. Namun metode ini memiliki kekurangan, yaitu:
- Pertama: memakan waktu terlalu lama
  Menggunakan kamus untuk siswa yang belum terampil akan membutuhkan waktu yang cukup lama, sementara tuntutan materi yang ditargetkan cukup banyak. Sehingga ini akan membuat materi-materi yang telah direncanakan sebelumnya tidak tersampaikan 100%.

- Kedua: Kurangnya Media Belajar Kamus
  Tidak semua siswa memiliki kamus Bahasa Inggris, apalagi siswa yang orang-tuanya tidak mampu. Sekolah yang baik seharusnya menyediakan 20 sampai 40 kamus di perpustakaannya agar bisa dipinjam/digunakan sebagai media belajar. Namun saya yakin 90% atau mungkin lebih, sekolah SD di Indonesia rata-rata tidak memiliki stok kamus yang memadai di perpustakaan sekolahnya.

- Ketiga: Kata yang memiliki banyak arti dan atau sinonim atau homonin atau homograf
  Kadang-kadang ada kata yang memiliki banyak arti atau sinonim atau homonim jika diterjemahkan kedalam bahasa lain. Misalkan guru memberikan soal dengan kata "Age" :
1. Age = ...
maka bisa saja ada siswa yang menjawabnya dengan "umur" atau ada juga yang akan menjawab "usia" atau mungkin ada yang menjawab "jaman", dan sebagainya sehingga jawabannya akan ada banyak pilihan. Contoh lainnya misalkan guru memberikan soal dangan kata "Menyimpan" :
2. Menyimpan = ...
maka bisa saja ada yang menjawab dengan kata "save", atau "keep", "store", "hold", dan lain-lain
2. Menyimpan = save
2. Menyimpan = keep
2. Menyimpan = store
2. Menyimpan = hold
dan lain-lain
Ini akan menyulitkan guru ketika proses pemeriksaan pekerjaan siswa dan juga akan membuat siswa kesulitan menghafal kata-kata tersebut. 

Solusi: Metode MATCHING WORD BY WORD
Mungkin Metode FIND THE WORD ini tidak akan terlalu menghambat jika digunakan pada siswa SMP atau SMA keatas, namun untuk siswa SD saya tidak terlalu merekomendasikan ini walaupun mungkin sekali-kali boleh dicoba, untuk meningkatkan tantangan atau tingkat kesulitan apabila kemampuan siswa dirasa sudah cukup. Namun untuk mempermudah pembelajaran Bahasa Inggris di SD guru dapat mencoba metode yang saya namakan Metode MATCHING WORD BY WORD atau dalam Bahasa Indonesia bermakna sama dengan "Menjodohkan/Mencocokkan Kata per Kata"

Pada dasarnya metode ini hampir mirip dengan Metode FIND THE WORD diatas, namun guru memberikan pilihan jawaban yang baku sehingga jawaban dari soal-soal tersebut menjadi baku dan tidak bervariasi atau sesuai dengan keinginan guru saat merancang RPP.

Langkah pertama dalam menyusun soal-soal adalah dengan menentukan kata-kata dan arti/terjemahannya, misalkan:
1. umur = age
2. menyimpan = save
3. garis = line
4. penggaris = ruler
5. gambar = picture
6. murid = student
7. belajar = study
8. guru = teacher
9. mengajar = teach
10. memakai = use
Kemudian, langkah berikutnya adalah mengacak pilihan jawaban, misal:
A. use
B. teach
C. teacher
D. study
E. student
F. age
G. save
H. picture
I. ruler
J. line
Sehingga soal yang kemudian akan guru tulis di papan tulis adalah seperti berikut ini:


Sebaiknya pilihan jawaban dalam bahasa inggris dan ditulis diawal, kemudian barulah ditulis soal-soalnya. Dengan demikian siswa akan dilatih untuk menuliskan kata dalam Bahasa Inggris sebanyak dua kali, yaitu pada pilihan jawaban dan ketika mengisi jawaban. Harapannya siswa secara motorik dapat menuliskan kata-kata Bahasa Inggris dengan baik dan mengingatnya karena dilakukan lebih intens daripada kata-kata dalam Bahasa Indonesia-nya yang cuma ditulis 1x.

Jawaban yang diharapkan adalah sebagai berikut:

A. use
B. teach
C. teacher
D. study
E. student
F. age
G. save
H. picture
I. ruler
J. line
1. umur = age
2. menyimpan = save
3. garis = line
4. penggaris = ruler
5. gambar = picture
6. murid = student
7. belajar = study
8. guru = teacher
9. mengajar = teach
10. memakai = use

Setelah saya coba di kelas, ternyata metode ini dapat diselesaikan dengan waktu hanya kurang dari 1 jam. Jika siswa sudah cukup pandai, mereka dapat menyelesaikan 10 sampai 20 soal kurang dari 30 menit. Menurut saya Metode MATCHING WORD BY WORD ini sangat efektif dan efisien.

Tindak lanjut dari Metode ini adalah Teknik Pemeriksaan dan Pembahasan Soal oleh guru. Adapun langkah-langkan atau aturannya adalah sebagai berikut:
  1. Siswa yang sudah menjawab semua boleh mengumpulkan bukunya di meja guru
  2. Guru melakukan pemeriksaan dan mengoreksi pekerjaan/jawaban siswa tersebut sambil menunggu siswa yang lain selesai mengerjakan/menjawab soal.
  3. Pada jawaban yang benar di buku siswa guru memberikan tanda V atau cek
  4. Pada jawaban siswa yang salah, guru memberikan tanda X atau silang kemudian guru memanggil siswa tersebut untuk membetulkan jawaban yang salah tersebut.
  5. Guru memberikan kredit kepada siswa pertama atau tercepat dalam mengerjakan soal dengan memberi tanda-tangan atau dengan menuliskan kata FASTEST di bukunya.
  6. Guru memberikan tanda-tangan dan tanda apresiasi pada buku siswa-siswa yang menggumpulan, misalkan tanda FAST kepada siswa-siswa yang cukup cepat dalam mengerjakan soal, dan tanda SLOW di buku/pekerjaan siswa yang lambat, dan sebagainya.
  7. Jika sudah banyak siswa yang mengumpulkan tugasnya, misalkan 10 orang, guru dapat meminta satu per satu siswa yang telah mengumpulkan tugasnya untuk mengisi soal di papan tulis. Tujuannya adalah melatih keberanian siswa dan melatih hafalan kata-kata Bahasa Inggris yang baru saja mereka kerjakan sekaligus memberikan kemudahan kepada teman-temannya yang belum bisa menjawab semua soal yang telah di tulis di papan tulis.
  8. Jika semua soal dipapan tulis telah dapat dijawab, semua siswa tidak lama dipastikan sudah dapat mengumpulkan tugas-tugasnya di meja guru, dan guru hanya tinggal memberikan tanda tangan dan tanda tulisan SLOW kepada siswa yang masih lambat dalam menyelesaikan soal.
  9. Guru mengembalikan buku tugas siswa. 
Selanjutnya apabila masih ada waktu, metode ini dapat dilanjutkan dengan Metode RE-WRITING agar siswa lebih intensif menghafal dan menguasai kata-kata Bahasa Inggris. Apabila waktu sudah habis, guru dapat memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada siswa serupa dengan Metode RE-WRITING. Metode ini cukup baik di terapkan dalam tugas Pekerjaan Rumah (PR).


Selamat mengajar!

Wednesday, April 12, 2017

Analisis Lembar Jawaban UAS/UTS Siswa Sebagai Feedback untuk Pengembangan RPP Pembelajaran Bahasa Inggris SD

     Dalam mengembangkan metode pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Guru membutuhkan feedback atau umpan balik atau laporan mengenai sejauh mana progress peserta didik yang telah mendapatkan pengalaman belajar. Apakah metode tersebut sudah cukup efektif, masih butuh penyempurnaan, atau masih banyak hal yang perlu dibenahi?

Waktu yang Mepet VS Materi yang Banyak
Saat ini saya sedang mengembangkan METODE RE-WRITING atau TULIS-ULANG dengan fokus atau berorientasi pada Soal-Soal UTS/UAS. Menurut pengalaman saya dalam mengembangkan metode ini, salah satu kendala yang saya hadapi adalah waktu yang sangat sedikit. Sehingga saya atau guru-guru lain yang mungkin sama-sama mengembangkan RPP dengan orientasi pada soal-soal UAS ini mengalami kesulitan untuk mengejar target.

     Ideal nya, guru dapat membahas semua materi tepat sebelum UTS/UAS berikutnya dilaksanakan. Namun ternyata karena materi yang terlalu banyak memaksa kami untuk tidak menyampaikan seluruh materi tersebut 100% sesuai yang diharapkan. Karena orientasi pada RPP ini berfokus pada soal-soal UTS/UAS dimana ada sekitar 35 sampai 40 soal yang harus kami bahas dalam waktu kurang dari 3 bulan saja. Misalkan jam belajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris ini di kelas hanya satu kali pertemuan per minggu dan hari masuk sekolah dikurangi hari-hari libur hanya 2 bulan saja per setengah semester. Untuk mempermudah saya membulatkan 2 bulan tersebut kedalam 9 minggu, karena satu bulan hanya 4 minggu lebih beberapa hari saja. Sehingga dalam waktu 9x pertemuan kami harus sudah bisa membahas 40 soal atau sekitar 5 soal per pertemuan atau per kegiatan pembelajaran. Dan menurut saya ini terlalu sulit untuk dilakukan. Karena sejauh pengalaman saya mengembangkan metode ini, kami hanya mampu membahas sekitar 1 sampai 3 soal saja per kegiatan belajar per minggunya. Itu pun plus sebagian materi yang terpaksa harus dijadikan PR atau Pekerjaan Rumah.

Solusi: Menyeleksi Sebagian Soal
Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas, sementara ini saya memilih untuk menyeleksi sebagian soal-soal UTS/UAS yang mayoritas belum dipahami atau dikuasai oleh siswa. Berdasarkan data-data nilai UTS/UAS siswa, paling tidak rata-rata siswa dapat menjawab 50% dari semua soal-soal UTS/UAS. Sehingga yang perlu dibahas kemudian adalah 50% lagi dari soal-soal yang rata-rata tidak dapat dijawab dengan benar oleh siswa. Sehingga beban jumlah soal yang harus dibahas per minggunya menjadi 3 soal saja.


Berikut ini contoh/sample data nilai UTS siswa:




Link: https://docs.google.com/spreadsheets/d/1yPxEBsqaQpYbLQTH3dEBITdz564ERc4l5lwV18bC5Vw/pubhtml

Download: https://docs.google.com/spreadsheets/d/1yPxEBsqaQpYbLQTH3dEBITdz564ERc4l5lwV18bC5Vw/pub?output=xlsx

Berdasarkan data tersebut diatas, pada minggu pertama setelah UTS saya merancang RPP untuk pertemuan pertama berdasarkan Soal UTS Nomor 7. Saya menggunakan Metode RE-WRITING (Tulis Ulang) dan Metode MATCHING WORD BY WORD (Menjodohkan Kata per Kata) dalam merancang RPP ini.


Tuesday, April 11, 2017

Soal-Soal Bahasa Inggris Kelas 4 UTS 2 SD (2016-2017)

Berikut ini soal-soal Bahasa Inggris Kelas IV Ulangan Tengah Semester II (UTS II) Tahun Pelajaran 2016-2017, yang telah dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2017 lalu:

download


download


BACA JUGA:

Soal-Soal Bahasa Inggris Kelas 5 UTS 2 SD (2016-2017)

Berikut ini soal-soal Bahasa Inggris Kelas V Ulangan Tengah Semester II (UTS II) Tahun Pelajaran 2016-2017, yang telah dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2017 lalu:

download


download


BACA JUGA:

Soal-Soal Bahasa Inggris Kelas 6 UTS 2 SD (2016-2017)

Berikut ini soal-soal Bahasa Inggris Kelas VI Ulangan Tengah Semester II (UTS II) Tahun Pelajaran 2016-2017, yang telah dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2017 lalu:

download

download

BACA JUGA:

Tuesday, August 9, 2016

RPP Metode RE-WRITING Paling Mudah Mengajar Pembelajaran Bahasa Inggris SD

Banyak pilihan metode dalam mengajar. Pemilihan metode ini sangat penting agar pembelajaran di kelas menjadi efektif. Kesalahan pemilihan metode mengajar dapat mempersulit siswa dalam belajar atau bahkan mempersulit guru dalam mengajar karena tidak menguasai teknik mengajar pada metode tersebut.



Pada tulisan saya sebelumnya: RPP Bahasa Inggris SD Strategi Mengajar yang Berorientasi pada Soal UTS dan UAS ala Guru Bimbel bahwa saat ini memang saya sedang mengembangkan RPP yang berorientasi pada soal-soal UTS/UAS. Sehingga sumber inspirasi metode ini adalah salah-satu dari soal-soal UTS/UAS tersebut.

Pada sebuah soal UTS kelas 4 SD ada satu soal berikut:
What do we call someone who teach in school? 
a. Student                    c. teacher
b. Schoolguard           d. headmaster

Sebetulnya saya kurang suka dengan pertanyaan yang panjang ini untuk dijadikan soal untuk murid kelas 4 SD. Karena murid kelas 4 biasanya baru dalam tahap awal dalam mempelajari mata pelajaran Bahasa Inggris ini. Biasanya kelas 4 masih belum terlalu pandai dalam berbahasa Inggris, jangankan membaca kalimat per kalimat yang panjang, menggunakan kamus dan menulis/membaca kata-per-kata saja masih sulit. Idealnya soal-soal ujian untuk murid kelas 4 itu berupa gambar atau paling susah kalimat pendek yang terdiri dari 2 kata atau tiga kata saja.


Namun apabila terpaksa, berikut ini metode paling mudah untuk menyedehanakan Pembelajaran Bahasa Inggris. Misalkan tujuan saya akan membuat pembelajaran berdasarkan soal diatas:

     What do we call someone who teach in school? 
     a. Student                    c. teacher
     b. Schoolguard           d. headmaster

Metode ini saya beri nama METODE RE-WRITING atau menulis ulang. Metode ini terinspirasi dari guru kelas rendah dalam mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang biasanya memberikan tugas kepada siswa untuk menulis huruf-huruf, lalu kata kemudian kalimat secara berulang-ulang. Tujuan dari metode ini adalah melatih siswa dalam menulis kata-kata atau word by word dengan benar disertai arti dalam bahasa Indonesianya. Penulisan secara berulang diharapkan siswa secara intensif menjadi tahu dan hafal cara menulis kata-kata tersebut dengan benar dan paham artinya dalam Bahasa Indonesia. Sangat mirip dengan metode yang dilakukan guru kelas 1 atau kelas 2 SD ketika mengajar murid dalam menulis. Berikut langkah-langkah dalam merancang RPP dengan menggunakan METODE RE-WRITING:

LANGKAH 1: melakukan highlight pada beberapa kata yang "penting" dan diutamakan untuk dipahami oleh siswa. Misalnya saya memilih kata kata berikut:

     What do we call someone who teach in school? 
     a. Student                    c. teacher
     b. Schoolguard           d. headmaster

LANGKAH 2: mengurutkan kata-kata tersebut dari yang paling penting, misal:
1. Teacher → ini jawabannya, jadi merupakan kata yg paling penting untuk diingat
2. Teach → kata kerja yg identik dengan kata "teacher"
3. Who → kata tanya, yg menekankan pertanyaan "siapa orangnya?"
4. School → kata keterangan tempat utk pemperkuat kata-kata sebelumnya
5. in  → sama-sama kata keterangan utk memperkuat/memperjelas saja

sebetulnya dari dua kata "who teach?" atau bahkan satu kata "teach" saja murid yang pandai dapat menerka jawabannya adalah "teacher"

LANGKAH 3: dikelas guru menulis 5 kata tersebut disertai artinya
1. Teacher = Guru
2. Teach = Mengajar
3. Who = Siapa
4. School = Sekolah
5. in = di
Kemudian siswa menulis di bukunya masing-masing

LANGKAH 4: Siswa ditugaskan untuk mengulangi atau menulis ulang atau Rewrite sebanyak 5x atau 10x tergantung kebutuhan.
1. Teacher = Guru          1. Teacher = Guru         1. Teacher = Guru
2. Teach = Mengajar     2. Teach = Mengajar     2. Teach = Mengajar
3. Who = Siapa             3. Who = Siapa             3. Who = Siapa          
4. School = Sekolah     4. School = Sekolah      4. School = Sekolah
5. in = di                      5. in = di                        5. in = di

1. Teacher = Guru          1. Teacher = Guru         1. Teacher = Guru
2. Teach = Mengajar     2. Teach = Mengajar     2. Teach = Mengajar
3. Who = Siapa             3. Who = Siapa             3. Who = Siapa          
4. School = Sekolah     4. School = Sekolah      4. School = Sekolah
5. in = di                      5. in = di                        5. in = di

1. Teacher = Guru          1. Teacher = Guru         1. Teacher = Guru
2. Teach = Mengajar     2. Teach = Mengajar     2. Teach = Mengajar
3. Who = Siapa             3. Who = Siapa             3. Who = Siapa          
4. School = Sekolah     4. School = Sekolah      4. School = Sekolah
5. in = di                      5. in = di                        5. in = di

1. Teacher = Guru
2. Teach = Mengajar
3. Who = Siapa
4. School = Sekolah
5. in = di

Untuk siswa yang pandai atau diatas rata-rata guru dapat meningkatkan tingkat kesulitan dengan cara menambah jumlah kata-kata menjadi 10, 15, atau 20 kata. Namun untuk siswa yang kurang cepat dalam belajar, 5 kata per 2 jam pelajaran atau per minggu sudah cukup agar siswa tersebut tidak keteteran.

LANGKAH 4: Guru memeriksa pekerjaan siswa, mengkoreksi apabila ada penulisan yang salah. Guru dapat memberikan instruksi agar siswa yang sudah selesai mengerjakan tugasnya mengumpulkannya di meja guru untuk diperiksa. 
  • Apabila pada pekerjaan siswa ada penulisan yang salah guru memanggil siswa dan memberikan tugas untuk memperbaikinya, apabila cukup waktu guru dapat menambah tugas menulis ulang sampai 1 kali, 2 kali, atau lebih. Tujuannya agar siswa lebih terlatih secara intensif.
  • Guru dapat memberikan tugas tambahan bagi siswa tertentu yang sudah mengumpulkan tugas belajarnya dengan memberikan 5 atau 10 kata-kata baru. Hal ini cocok di tujukan pada siswa-siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata kelas

LANGKAH 5: Memberikan PR rewriting. Kata-kata yang di-PR-kan dapat merupakan kata-kata baru yang belum diajarkan atau kata-kata yang telah diajarkan hal ini dapat disesuaikan dengan kemampuan siswa. Lebih sering atau lebih intensif maka secara sederhananya siswa akan lebih terlatih namun kadang metode ini akan membuat siswa jenuh atau bosan. Untuk siswa-siswi dengan kemampuan diatas rata-rata dapat diberikan 10 sampai 20 kata-kata baru, selain untuk meningkatkan kemampuannya juga agar mereka tidak terlalu bosan.

LANGKAH 6: PRE-TEST dan POST-TEST, untuk mereview dan mengukur sejauh mana kemampuan siswa. Guru dapat melakukan semacam tes atau kuis diawal atau di akhir pembelajaran. Tes yang paling mudah dan cepat adalah tes tertulis dengan pilihan jawaban atau istilah lainnya "Mencocokkan" pasangan kata:

1. Guru = ....                   A. Who
2. Mengajar = ....           B. Teach
3. Siapa = ....                 C. in
4. Sekolah = ....              D. School
5. di = ....                        E. Teacher